Bayangkan kamu turun ke laut.
10 meter...
50 meter...
100 meter...
Cahaya matahari mulai berkurang.
Terus turun lagi.
200 meter.
Dunia di atas perlahan menghilang. Warna-warna mulai lenyap, dan cahaya semakin sulit menembus air.
Sekarang bayangkan kamu berada ribuan meter di bawah permukaan laut.
Tidak ada sinar matahari.
Tidak ada tumbuhan seperti yang kita lihat di permukaan.
Tidak ada padang rumput.
Tidak ada pohon.
Bahkan untuk manusia, tempat seperti ini terlihat seperti dunia alien.
Tapi masalahnya...
ikan tetap hidup di sana.
Mereka berenang.
Mereka berburu.
Mereka berkembang biak.
Dan tentunya...
mereka harus makan.
Jadi muncul satu pertanyaan yang kelihatannya sederhana, tetapi ternyata membawa kita ke salah satu misteri terbesar kehidupan di planet Bumi:
Kalau laut dalam gelap dan tidak ada cahaya matahari, ikan-ikan di sana makan apa?
Jawabannya ternyata jauh lebih mengejutkan daripada sekadar "mereka makan ikan lain".
Laut dalam memang benar-benar minim cahaya
Sebelum membahas makanan, kita harus memahami seberapa ekstrem lingkungannya.
Secara umum, zona laut yang mendapatkan cahaya cukup untuk fotosintesis berada di sekitar 200 meter teratas. Cahaya dapat terdeteksi lebih dalam dalam kondisi tertentu, tetapi biasanya tidak ada cahaya matahari yang signifikan melewati kedalaman tersebut. NOAA menyebut bagian atas ini sebagai zona eufotik atau zona yang mendapatkan cahaya matahari.
Semakin dalam kita turun, cahaya semakin sedikit.
Dan setelah sekitar 1.000 meter, lingkungan laut sudah benar-benar gelap dari cahaya matahari.
Masalahnya, tumbuhan dan alga membutuhkan cahaya untuk melakukan fotosintesis.
Artinya...
rantai makanan tidak bisa bekerja dengan cara yang sama seperti di permukaan.
Lalu bagaimana kehidupan tetap berjalan?
Di sinilah ceritanya mulai menarik.
Ternyata laut dalam tidak sepenuhnya "kelaparan"
Kalau kamu membayangkan laut dalam sebagai tempat yang benar-benar kosong dan tidak memiliki makanan, kamu tidak sepenuhnya salah.
Makanan memang jauh lebih terbatas di banyak bagian laut dalam.
Tetapi dari atas, terus terjadi sesuatu yang sangat penting.
Ada material yang perlahan-lahan jatuh menuju kedalaman.
Sangat pelan.
Seperti hujan.
Namun bukan air.
Melainkan...
partikel organik.
Para ilmuwan menyebut fenomena ini sebagai marine snow atau "salju laut".
Apa itu marine snow?
Marine snow terdengar seperti sesuatu yang indah.
Dan jika dilihat dari bawah, memang bisa terlihat seperti salju yang turun dari langit.
Bedanya, "salju" ini berasal dari materi biologis dan partikel lain dari lapisan laut atas.
Sisa organisme.
Plankton.
Material organik.
Kotoran hewan.
Partikel mati dan membusuk.
Semuanya perlahan tenggelam menuju laut yang lebih dalam.
NOAA menjelaskan bahwa marine snow merupakan hujan material organik dari perairan atas menuju laut dalam. Sebagian partikel bahkan membutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mencapai dasar laut.
Bayangkan ada sebuah restoran raksasa di permukaan laut.
Setiap hari restoran itu menghasilkan sisa makanan.
Kemudian sisa tersebut jatuh perlahan ke lantai basement.
Basement-nya sangat dalam.
Dan para penghuninya menunggu makanan itu datang.
Kira-kira seperti itulah salah satu cara energi dari permukaan akhirnya bisa mencapai laut dalam.
"Salju" itu menjadi makanan bagi banyak penghuni laut dalam
Marine snow bukan cuma pemandangan unik.
Bagi banyak organisme laut dalam, material tersebut adalah sumber makanan penting.
Ada hewan yang menyaring partikel dari air.
Ada yang memakan material organik yang sudah jatuh ke dasar.
Ada juga organisme yang menjadi bagian dari rantai makanan berikutnya.
Dengan kata lain:
kehidupan di permukaan secara tidak langsung memberi makan kehidupan di kedalaman.
Ini membuat laut sebenarnya jauh lebih terhubung daripada yang terlihat.
Apa yang terjadi di permukaan tidak berhenti di permukaan.
Sisa kehidupan dari atas bisa perlahan turun...
hingga ribuan meter di bawahnya.
Tapi bagaimana dengan ikan predator?
Nah, ini bagian yang lebih menarik.
Tidak semua ikan laut dalam hanya menunggu "salju makanan" turun.
Sebagian merupakan predator.
Mereka berburu organisme lain yang juga sudah beradaptasi dengan kehidupan di kedalaman.
Dan karena lingkungan gelap, sistem berburu mereka juga berbeda.
Beberapa ikan mengandalkan penglihatan yang sangat sensitif.
Sebagian menggunakan indra lain.
Dan banyak organisme laut dalam memanfaatkan bioluminesensi.
Bioluminesensi adalah kemampuan menghasilkan cahaya melalui reaksi kimia di dalam tubuh.
Di laut dalam, cahaya biologis ini sangat umum. Smithsonian bahkan menyebut bahwa sekitar 76 persen hewan yang hidup di laut dalam diperkirakan mampu menghasilkan cahaya sendiri.
Jadi...
Laut dalam memang gelap.
Tetapi bukan berarti tidak ada cahaya sama sekali.
Ada cahaya yang dibuat oleh penghuninya sendiri.
Bayangkan berburu menggunakan "lampu"
Sekarang bayangkan kamu menjadi predator di laut dalam.
Tidak ada matahari.
Tidak ada lampu jalan.
Tidak ada bulan yang bisa menerangi dasar laut.
Tapi tiba-tiba...
BLINK!
Sebuah cahaya muncul di kejauhan.
Itu bisa menjadi mangsa.
Atau mungkin predator.
Atau bahkan sinyal untuk mencari pasangan.
Bioluminesensi digunakan oleh berbagai organisme laut untuk berbagai fungsi, termasuk mencari makanan, menarik pasangan, perlindungan, dan komunikasi.
Bagi manusia, cahaya kecil di tengah kegelapan mungkin terlihat sepele.
Bagi predator laut dalam...
itu bisa menjadi tanda makan malam.
Ada ikan yang sengaja membawa "lampu" sendiri
Salah satu contoh terkenal adalah anglerfish.
Ikan ini memiliki struktur seperti umpan yang menghasilkan cahaya di depan mulutnya.
Mangsa yang penasaran dapat mendekati cahaya tersebut.
Dan ketika jaraknya sudah cukup dekat...
sergap.
Ini adalah salah satu strategi berburu paling ekstrem di dunia hewan.
Smithsonian menjelaskan bahwa sejumlah ikan menggunakan cahaya untuk menarik mangsa.
Jadi kalau di permukaan kita menggunakan umpan untuk memancing ikan...
di laut dalam, ada predator yang secara biologis sudah membawa "umpan bercahaya" sendiri.
Bedanya...
yang satu memakai tackle.
Yang satu memakai evolusi.
Tetapi ada sesuatu yang bahkan lebih gila
Sekarang kita sampai pada bagian yang membuat para ilmuwan benar-benar kagum.
Ada tempat di dasar laut yang bisa memiliki komunitas kehidupan yang sangat kaya...
padahal tidak mendapatkan energi dari matahari.
Tempat itu dikenal sebagai hydrothermal vent.
Bayangkan dasar laut.
Gelap.
Dingin di sekitarnya.
Tekanan sangat tinggi.
Lalu dari dasar bumi muncul air yang sangat panas dan kaya bahan kimia.
Di sekitar sumber tersebut ternyata bisa berkembang komunitas kehidupan yang luar biasa.
Pertanyaannya:
Dari mana energinya?
Jawabannya adalah...
Chemosynthesis.
Kehidupan yang tidak membutuhkan matahari
Di permukaan, sebagian besar rantai makanan sangat bergantung pada fotosintesis.
Tumbuhan dan alga menggunakan energi matahari untuk menghasilkan bahan organik.
Tetapi organisme tertentu di laut dalam memiliki strategi berbeda.
Mereka memanfaatkan energi kimia.
Proses tersebut dikenal sebagai kemosintesis atau chemosynthesis.
NOAA menjelaskan bahwa pada lingkungan seperti hydrothermal vent dan cold seep, mikroorganisme dapat menggunakan energi dari reaksi kimia untuk menghasilkan bahan organik.
Jadi kalau fotosintesis berbunyi:
matahari → energi → makanan
kemosintesis secara sederhana bisa dibayangkan sebagai:
reaksi kimia → energi → makanan
Dan ini mengubah cara kita memahami kehidupan.
Karena ternyata...
matahari bukan satu-satunya sumber energi yang bisa menopang ekosistem.
Tahun 1977 menjadi titik balik
Penemuan komunitas hydrothermal vent pada tahun 1977 menjadi salah satu momen penting dalam pemahaman manusia mengenai kehidupan laut dalam.
Ketika peneliti menjelajahi dasar laut di sekitar Kepulauan Galápagos, mereka menemukan hydrothermal vent yang dikelilingi komunitas organisme yang sangat kaya.
Padahal...
tidak ada sinar matahari yang bisa digunakan untuk fotosintesis.
NOAA mencatat bahwa penemuan tersebut menunjukkan adanya komunitas yang hidup berdasarkan energi kimia, bukan energi matahari secara langsung.
Penemuan ini benar-benar mengubah cara ilmuwan memandang kehidupan.
Sebelumnya kita terbiasa berpikir bahwa kehidupan membutuhkan matahari secara langsung atau tidak langsung.
Ternyata alam punya kartu lain.
Bakteri menjadi "pabrik makanan" di dasar laut
Di sekitar hydrothermal vent dan cold seep, mikroorganisme tertentu dapat menjadi dasar rantai makanan.
Mereka memanfaatkan energi dari senyawa kimia seperti sulfida atau metana.
Kemudian organisme lain memakan mikroorganisme tersebut atau mendapatkan energi melalui hubungan simbiosis.
Rantai makanan pun terbentuk.
NOAA menjelaskan bahwa mikroba kemosintetik menjadi dasar jaringan makanan di berbagai komunitas laut dalam, termasuk di sekitar hydrothermal vents dan cold seeps.
Jadi di tempat yang tampaknya mustahil untuk kehidupan...
justru bisa muncul sebuah oasis kehidupan.
Bahkan ada "kota" kehidupan di dasar laut
Di sekitar beberapa hydrothermal vent, kamu bisa menemukan komunitas organisme yang sangat padat dibandingkan lingkungan sekitarnya.
Ada cacing tabung raksasa.
Kerang.
Udang.
Kepiting.
Mikroorganisme.
Dan berbagai hewan lain.
Semuanya terhubung dalam jaringan kehidupan yang bergantung pada sumber energi kimia.
Bagi manusia, tempat tersebut terlihat seperti dunia yang mustahil.
Namun bagi penghuninya...
itulah rumah.
Bagaimana ikan bisa bertahan ketika makanan sangat sedikit?
Inilah alasan banyak hewan laut dalam memiliki metabolisme yang lambat atau adaptasi khusus terhadap kondisi minim makanan.
Mereka tidak hidup di buffet 24 jam.
Makanan datang tidak teratur.
Karena itu, strategi bertahan hidup menjadi sangat penting.
Ada yang:
memakan marine snow,
menjadi pemakan bangkai,
memangsa organisme kecil,
memangsa ikan lain,
memanfaatkan bioluminesensi untuk berburu,
atau hidup dalam ekosistem yang mendapatkan energi dari kemosintesis.
Setiap spesies memiliki strategi berbeda.
Dan ini menunjukkan satu hal penting:
laut dalam bukan satu ekosistem tunggal.
Ada banyak lingkungan berbeda di dalamnya.
Bangkai paus ternyata bisa menjadi "hotel" kehidupan
Ada satu sumber makanan laut dalam yang mungkin terdengar aneh:
bangkai paus.
Ketika paus mati dan tubuhnya tenggelam ke dasar laut, bangkai tersebut dapat menjadi sumber energi dan nutrisi bagi komunitas organisme selama waktu yang panjang.
NOAA memasukkan whale carcasses sebagai salah satu lokasi tempat komunitas yang berkaitan dengan kemosintesis ditemukan.
Jadi seekor paus yang mati di permukaan bukan selalu akhir dari ceritanya.
Tubuhnya dapat menjadi awal dari cerita baru di dasar laut.
Organisme datang.
Jaringan tubuh dikonsumsi.
Mikroorganisme berkembang.
Komunitas baru terbentuk.
Dan energi dari satu tubuh dapat dimanfaatkan oleh banyak organisme.
Laut dalam ternyata seperti dunia dengan "sistem daur ulang" sendiri
Kalau kita perhatikan, semuanya mulai terhubung.
Organisme di permukaan mati.
Sebagiannya menjadi marine snow.
Marine snow tenggelam.
Organisme laut dalam memakannya.
Sebagian organisme menjadi mangsa predator.
Sebagian mati dan kembali menjadi sumber nutrisi.
Di tempat tertentu, bahan kimia dari dasar laut memberi energi kepada mikroorganisme.
Mikroorganisme menjadi dasar rantai makanan.
Jadi laut memiliki berbagai jalur perpindahan energi.
Tidak semuanya bergantung pada satu mekanisme.
Dan itulah yang membuat ekosistem laut begitu luar biasa.
Lalu apakah laut dalam benar-benar gelap?
Kalau yang dimaksud adalah cahaya matahari...
ya, semakin dalam cahaya matahari menghilang.
Tetapi kalau yang dimaksud adalah tidak ada cahaya sama sekali...
tidak selalu.
Bioluminesensi membuat banyak bagian laut dalam memiliki cahaya biologis.
Makhluk hidup dapat menghasilkan cahaya sendiri.
Dan cahaya itu bisa digunakan untuk berburu, mencari pasangan, mengelabui predator, atau berkomunikasi.
Jadi gambaran laut dalam sebagai dunia hitam pekat tanpa cahaya sebenarnya terlalu sederhana.
Lebih tepat jika kita membayangkannya sebagai:
dunia yang sangat gelap dengan titik-titik cahaya biologis yang muncul di berbagai tempat.
Fakta yang bikin merinding: kita baru melihat sebagian kecil dari dunia ini
Laut dalam adalah salah satu lingkungan terbesar di planet kita.
Namun akses manusia ke sana sangat terbatas.
Tekanan meningkat drastis seiring kedalaman.
Suhu rendah.
Cahaya hampir tidak ada.
Dan eksplorasinya membutuhkan teknologi khusus.
NOAA menyebut laut dalam sebagai wilayah yang gelap, dingin, bertekanan tinggi, dan masih jauh lebih sulit dipelajari dibandingkan perairan dangkal.
Artinya...
masih sangat mungkin ada banyak kehidupan dan interaksi ekologis yang belum kita pahami sepenuhnya.
Dan setiap ekspedisi baru bisa membawa kejutan.
Jadi, ikan laut dalam makan apa?
Sekarang kita sudah bisa menjawab pertanyaan awal.
Ikan laut dalam tidak memiliki satu jenis makanan yang sama.
Tergantung spesies dan habitatnya.
Sebagian mendapatkan energi secara tidak langsung dari permukaan melalui marine snow.
Sebagian memangsa organisme lain.
Sebagian memanfaatkan bioluminesensi untuk berburu.
Dan pada ekosistem tertentu seperti hydrothermal vent atau cold seep, rantai makanan dapat ditopang oleh mikroorganisme kemosintetik yang memperoleh energi dari reaksi kimia.
Jadi meskipun matahari tidak menyinari dasar laut...
kehidupan tetap menemukan cara untuk mendapatkan energi.
Misteri laut dalam akhirnya terungkap
Selama ini kita mungkin membayangkan kehidupan seperti sebuah sistem sederhana:
matahari → tumbuhan → ikan → predator.
Tetapi laut dalam menunjukkan bahwa alam jauh lebih kreatif.
Ada kehidupan yang memanfaatkan partikel yang jatuh dari permukaan.
Ada predator yang menggunakan cahaya sebagai perangkap.
Ada organisme yang memanfaatkan bangkai.
Dan ada komunitas yang hidup dari energi kimia di dasar laut.
Semua ini terjadi di dunia yang sebagian besar tidak bisa kita lihat dengan mata sendiri.
Dan mungkin bagian paling menarik bukanlah apa yang sudah kita ketahui.
Melainkan...
apa yang belum kita temukan.
Kesimpulan
Kalau kamu bertanya:
"Bagaimana ikan bisa hidup di laut yang gelap?"
Jawabannya bukan karena mereka memiliki satu sumber makanan rahasia.
Laut dalam memiliki jaringan kehidupan yang sangat kompleks.
Energi dari permukaan dapat turun melalui marine snow.
Predator berburu organisme lain.
Bioluminesensi membantu sebagian hewan menemukan makanan.
Dan di lokasi tertentu, kemosintesis memungkinkan ekosistem berkembang tanpa bergantung langsung pada cahaya matahari.
Jadi laut dalam bukan dunia mati.
Justru sebaliknya.
Di tempat yang terlihat paling gelap bagi manusia, kehidupan sedang berlangsung dengan caranya sendiri.
Dan mungkin...
ketika kita suatu hari berhasil menjelajahi lebih banyak bagian laut dalam...
kita akan menemukan bahwa beberapa "monster" yang selama ini hanya kita lihat dalam foto ternyata hanyalah sebagian kecil dari cerita.
Karena di bawah sana...
masih ada dunia yang belum selesai kita kenal.
FAQ: Kehidupan dan Makanan Ikan Laut Dalam
Apakah ikan laut dalam makan?
Ya. Ikan laut dalam memiliki berbagai strategi memperoleh makanan, termasuk memangsa organisme lain dan memanfaatkan sumber energi yang tersedia di habitatnya.
Ikan laut dalam makan apa?
Tergantung spesiesnya. Makanan dapat berupa organisme kecil, ikan lain, bangkai, atau material organik yang turun dari permukaan sebagai marine snow.
Apa itu marine snow?
Marine snow adalah kumpulan material organik dan partikel yang perlahan turun dari lapisan atas laut menuju kedalaman. Material ini menjadi sumber makanan penting bagi banyak organisme laut dalam.
Apakah laut dalam tidak memiliki cahaya sama sekali?
Cahaya matahari hampir tidak ada di kedalaman laut, tetapi organisme laut dapat menghasilkan cahaya sendiri melalui bioluminesensi.
Apa itu chemosynthesis?
Chemosynthesis atau kemosintesis adalah proses ketika organisme menggunakan energi dari reaksi kimia untuk menghasilkan bahan organik, berbeda dengan fotosintesis yang menggunakan energi matahari.
Apakah ada tumbuhan di laut dalam?
Tumbuhan dan organisme fotosintetik membutuhkan cahaya, sehingga tidak dapat membentuk ekosistem fotosintetik seperti di permukaan pada kedalaman yang benar-benar gelap. Namun, ekosistem laut dalam dapat memperoleh energi melalui jalur lain seperti marine snow dan kemosintesis.
Apakah hydrothermal vent memiliki ikan?
Ya. Komunitas di sekitar hydrothermal vent dapat mencakup berbagai organisme, dan jaringan makanannya ditopang oleh mikroorganisme kemosintetik.
Apakah bangkai paus menjadi makanan bagi hewan laut dalam?
Ya. Bangkai paus yang mencapai dasar laut dapat menjadi sumber nutrisi bagi komunitas organisme laut dalam dan bagian dari ekosistem yang kompleks.
